Jumat, 17 Februari 2012

Kisah Sebuah Wortel, sebuah Telur dan Secangkir Kopi


Kisah Sebuah Wortel,
sebuah Telur dan Secangkir Kopi

                Seorang gadis mengadu kepada ibunya, berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui semua itu dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang dan menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, akan timbul masalah baru.
                Biunya mengajak putrinya menuju dapur. Diisinya 3 buah panci dengan air dan direbus air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih, dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci kedua, dan butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di panci kembali mendidih.

Dalam 20 menit kompor-kompor dimatikan oleh sang ibu. Wortel dikeluarkan dan diletakkan dalam sebuah piring. Begitu juga dengan telur dan kopi diletakkan dalam piring dan gelas berbeda. San ibu memandang putrinya sambil berkata : “Katakn apa yang kamu lihat.” Putrinya menjawab : “Wortel, telur dan kopi.”
                Ibunya meminta putrinya agar mendekat dan merasakan wortel itu. Wortel itu menjadi lembek. Ibunys kemudian meminta putrinya untuk memecahkan telur yang telah matang itu. Setelah mengupas kulitnya, dia sadar bahwa isi telurnitu telah mengeras karena direbus. Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk meminum kopi yang telah matang. Putrinya tersenyum merasakan keharuman kopinya.
“Apa arti semua ini, ibu?”
Ibu menjelaskan bahwa setiap benda-benda itu telah melewati “kemalangan” yang sama, yaitu direbus di dalam air yang mendidih. Namun tiap benda punya reaksi berbeda.
                Wortel itu sebelumnya kuat, keras dan “tidak berperasaan”. Namun setelah direbus dia menjadi lunak dan lemah. Telur itu sebelumanya rentan, dan mudah pecah. Punya dinding tipis untuk melindungi cairan didalamnya. Namun setelah direbus, cairan didalamnya menjadi keras. Sedangkan butiran kopi adalah fenomena unik, ia menjadi air setelah direbus.”
Termasuk yang mana kamu, anakku?” kata ibu pada putrinya. “Jika kemalangan mengetuk pintumu, bagaimana kamu mersponnya? Apakah kamu seperti wortel, sebutir telur atau biji kopi ?”
  
Camkan hal ini :

                Termasuk yang mana aku ini? Apakah seperti wortel yang terlihat keras namun ketika dihadang masalah dan kemalangan akku menjadi lemah dan kehilangan kekuatanku?
                Apakah hatiku rentan seperti isi telur, namun ketika “dididihkan” oleh kematian, perpiosahan, masalah keuangan atau ujian ujian lainnya menkjadikan hatiku kuat? Apakah diding luarku telihat sama namun kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras? Atau kau mirip dengan biji kopi ? Biji kopi sebenarnya mengubah air panas disekitarnya, yaitu keadaan yang membawa dalam kepedihan. Ketika air itu mendidih, maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi yang nikmat.
                Bila keadaan menjadikan kian memburuk, mampukash kalian mengubah situasi di sekitar menjadi suatu kebaikan? Ketika hari kian gelap dan ujian semakin meningkat, apakah kalian mengangkat diri sendiri ketingkatan yang lain? Bagaimana kalian menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti? Apakah kalian mirip sebuah wortel, sebutir telur atau sebiji kopi?
Semoga kalian mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup terasa lebih indah. Cukup ujian agar membuat kalian kuat, cukup kesusahan agar kalian lebih manusiawi, dan cukup harapan untuk kalian lebih mampu bertahan hidup.
                Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyabut kehadirannya. Menangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.
                Dunia ini memang panggung sandiwara, kita semua yang kita lihat hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa, kita bukanlah yang kita sangka. Kita hanyalah byangan-bayangan, pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar, melihat, merasa, berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya?


3 komentar:

  1. terima kasih...
    silahkan berbagi ilmu islami disini...
    saya tunggu.

    BalasHapus
  2. Kisah “Pensil dengan Penghapus “

    Perenungan tentang pentingnya dan beratnya menjadi orang tua :’)

    Pensil : “Maafkan aku Penghapus…”

    Penghapus : “Maafkan aku??untuk apa Pensil?? Kamu tidak melakukan kesalahan apapun kepadaku…”

    Pensil : “Aku minta maaf karena aku telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada disana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku lenyap, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat…”

    Penghapus : “Hal itu memang benar…Namun aku sama sekali tidak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan mengganti diriku dengan yang baru.
    Aku sungguh bahagia dengan peranku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih…”




    “Si Penghapus adalah Orang Tua kita…”
    “Si Pensil adalah diri kita sendiri….”




    “Orang tua akan selalu ada untuk anak-anaknya…”
    “Untuk memperbaiki kesalahan anak-anaknya…”



    Namun, terkadang, seiring berjalannya waktu…

    Orang tua akan terluka dan akan menjadi semakin kecil…

    (Bertambah tua dan akhirnya meninggal).

    Walaupun anak-anak mereka pada akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri),

    Namun orang tua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.

    …. Perenungan saya selama ini…. :’(



    “Hingga saat ini…”

    Saya masih menjadi Si Pensil…
    Hal itu sangat menyakitkan diri saya…
    Melihat si penghapus atau orang tua saya semakin bertambah “Kecil” dan “Kecil” seiring berjalannya waktu.

    Kelak suatu hari…
    Yang tertinggal hanyalah “Serutan” si penghapus
    Segala kenangan yang pernah saya lalui dan miliki bersama mereka…”

    BalasHapus