Dan ikutilah yang diwahyukan kepadamu, dan bersabarlah hingga Allah memberikan keputusan. Dia-lah Hakim yang terbaik.
Rabu, 25 Juli 2012
Jumat, 17 Februari 2012
Kisah Sebuah Wortel, sebuah Telur dan Secangkir Kopi
Kisah Sebuah Wortel,
sebuah Telur dan Secangkir Kopi
Seorang gadis mengadu kepada ibunya, berkeluh kesah tentang kehidupannya yang dirasa amat berat. Gadis itu tidak tahu bagaimana dia akan melalui semua itu dan merasa ingin menyerah saja. Dia merasa lelah berjuang dan menderita dalam kehidupan ini. Jika satu masalah teratasi, akan timbul masalah baru.
Biunya mengajak putrinya menuju dapur. Diisinya 3 buah panci dengan air dan direbus air itu dengan api yang besar. Begitu semua air mendidih, dia masukkan wortel pada panci pertama, telur pada panci kedua, dan butiran kopi di panci terakhir. Mereka menunggu sampai ketiga air di panci kembali mendidih.
Dalam 20 menit kompor-kompor dimatikan oleh sang ibu. Wortel dikeluarkan dan diletakkan dalam sebuah piring. Begitu juga dengan telur dan kopi diletakkan dalam piring dan gelas berbeda. San ibu memandang putrinya sambil berkata : “Katakn apa yang kamu lihat.” Putrinya menjawab : “Wortel, telur dan kopi.”
Ibunya meminta putrinya agar mendekat dan merasakan wortel itu. Wortel itu menjadi lembek. Ibunys kemudian meminta putrinya untuk memecahkan telur yang telah matang itu. Setelah mengupas kulitnya, dia sadar bahwa isi telurnitu telah mengeras karena direbus. Akhirnya sang ibu meminta putrinya untuk meminum kopi yang telah matang. Putrinya tersenyum merasakan keharuman kopinya.
“Apa arti semua ini, ibu?”
Ibu menjelaskan bahwa setiap benda-benda itu telah melewati “kemalangan” yang sama, yaitu direbus di dalam air yang mendidih. Namun tiap benda punya reaksi berbeda.
Wortel itu sebelumnya kuat, keras dan “tidak berperasaan”. Namun setelah direbus dia menjadi lunak dan lemah. Telur itu sebelumanya rentan, dan mudah pecah. Punya dinding tipis untuk melindungi cairan didalamnya. Namun setelah direbus, cairan didalamnya menjadi keras. Sedangkan butiran kopi adalah fenomena unik, ia menjadi air setelah direbus.”
Termasuk yang mana kamu, anakku?” kata ibu pada putrinya. “Jika kemalangan mengetuk pintumu, bagaimana kamu mersponnya? Apakah kamu seperti wortel, sebutir telur atau biji kopi ?”
Camkan hal ini :
Termasuk yang mana aku ini? Apakah seperti wortel yang terlihat keras namun ketika dihadang masalah dan kemalangan akku menjadi lemah dan kehilangan kekuatanku?
Apakah hatiku rentan seperti isi telur, namun ketika “dididihkan” oleh kematian, perpiosahan, masalah keuangan atau ujian ujian lainnya menkjadikan hatiku kuat? Apakah diding luarku telihat sama namun kini didalam aku menjadi seorang yang gigih dan berjiwa keras? Atau kau mirip dengan biji kopi ? Biji kopi sebenarnya mengubah air panas disekitarnya, yaitu keadaan yang membawa dalam kepedihan. Ketika air itu mendidih, maka dia mengeluarkan aroma dan rasa kopi yang nikmat.
Bila keadaan menjadikan kian memburuk, mampukash kalian mengubah situasi di sekitar menjadi suatu kebaikan? Ketika hari kian gelap dan ujian semakin meningkat, apakah kalian mengangkat diri sendiri ketingkatan yang lain? Bagaimana kalian menangani masalah-masalah hidup yang datang silih berganti? Apakah kalian mirip sebuah wortel, sebutir telur atau sebiji kopi?
Semoga kalian mempunyai cukup bekal kebahagiaan untuk membuat hidup terasa lebih indah. Cukup ujian agar membuat kalian kuat, cukup kesusahan agar kalian lebih manusiawi, dan cukup harapan untuk kalian lebih mampu bertahan hidup.
Ketika dilahirkan, bayi menangis disaat semua orang tersenyum menyabut kehadirannya. Menangkan hidup ini agar diakhir perjalanan nanti kita bisa tersenyum ketika semua orang disekitar menangis.
Dunia ini memang panggung sandiwara, kita semua yang kita lihat hanyalah ilusi yang penuh dengan kiasan-kiasan. Kita bukan siapa-siapa, kita bukanlah yang kita sangka. Kita hanyalah byangan-bayangan, pujilah Dia Yang mampu membuat bayangan-bayangan bisa mendengar, melihat, merasa, berbicara, dan berbuat apa saja. Bukalah hati, mata dan pikiranmu semasa di dunia, karena siapa yang buta hatinya di dunia, di akhirat nanti akan semakin dibuat buta oleh Tuhan-nya?
Jumat, 10 Februari 2012
Membagi Waktu dengan Adil
Membagi Waktu dengan Adil
“Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalanya.dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya” ( HR Ahmad )
Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Al Quran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah swt. Bersumpah bersumpah atas nama waktu. Misalnya awal surat Al Ash [103], Al Lail [92], Adh Dhuha [93], dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bial islam mengingatkan kita kan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu di sepertiga malam terakhir dan waktu dhuha (saat matahari sepenggalah).
Meningatkan pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh man komitmen kita terhadap waktu ? Bila kita termasuk orang yang meremahkan waktu, tidak kecewa saat penambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.
Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding denagn satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, mealmbung angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Mak, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktu dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.
Kunci Efektivitas Waktu
Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah, dan juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa diserai istirahat dan ibadah misalnya, hanya kan mendatangkan masalah.
Mahasiswa yang kan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untukmembuat perencaan. Sehari belajar berapa jam ? Katakanlah 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar ? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, malam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar. Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjlankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah rencana proporsinal dan fleksibel agar kita mudah menjalannya.
Menunda pekerjaan
Ada sebuah kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal menunda hampir pasti menunda masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang. Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaika. Andaikan kita tunda maka pasti pekerjaan lain akan menyusul sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu, dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.
Contaoh ada seorang pelajar yang kana mengahadapi ujian. Dalam hati ia berkata, “Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang.” Ketika malam datang ia berkata lagi, “Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian. “ saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, “Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti subuh. “ Apa yang terjadi ? subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas. Ada sebuah nasehat dari Imam Hasan Al Baqhri yang layak kiata renungkan. “Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu.
Coba kita renungkan lagi bahwa ditahun yang baru hijrah ini kita tata kembali evaluasi diri apa yang telah kita lakukan dan kita perbuat ditahun yang lalu apakah kita termasuk oleh Allah yang merugu ?
“Wallaahu a’alam”
Semoga sukses
Lakukan Aktivitas kamu dengan Ridho_Nya
Kamis, 09 Februari 2012
Mengendalikan Amarah
MENGENDALIKAN AMARAH
Oleh ; KH. Abdul Hasb Hasan Lc
Apabila kita telha mengetahui dan meyakini keutamaan mengendalikan amarah, maka akan muncul keinginan untuk meraih pahala yang disediakan Allah SWT sehingga lebih memotivasi kita untuk dapat menahan amarah.
Perhatikanlah kisah umar ra yang diceritakan oleh Malik bin Aus bin Hasan. Malik menceritakan bahwa Umar ra pernah marah pada seorang laki-laki dan memerintahkan agar lelaki itu dipukul, kemudian ia (Malik) membacakan kepada beliau surat Al A’raaf; 199,”Jadilah engkau pemaaf, dan suruhlah orang berbuat yang ma’ruf dan berpalinglah dari orang yang bodoh”. Kemudian Umar ra terdiam lalu memaafkan laki-laki itu dan tak jadi melampiaskan kemarahannya.
Selanjutnya, tentang sebab-sebab yang dapat membangkitkan amarah. Diantara sebab-sebab yang dapat membangkitkan amarah adalah sikap sombong, canda dan senda gurau yang tidak pada tempatnya, pelecehan, pencibiran, perdebatan, bertengkar, menghina, ambisi pada harta dan kedudukan, dan sebab-sebab lain yang kesemuanya merupakan sifat yang buruk dan tercela. Selama sifat ini masih melekat pada diri manusia maka ia tidak bisa terhindar dari amarah. Karenanya akhlak tercela ini harus dihilangkan dengan cara menanamkan dan membiasakan diri untuk menerapkan sifat kebalikanya.
Sifat sombong dihilangkan dengan cara membiasakan diri untuk tawadhhu’, ujub dipadamkan dengan mengenal hakikat diri yang sesungguhnya, kebanggaan dihapuskan denagn menginngat bahwa segala sesuatu berasal 4tyang sesungguhnya, kebanggaan dihapuskan denagn menginngat bahwa segala sesuatu berasal dari Allah SWT dan merupakan milikNya.
Adapun gemar bersenda gurau dan bercanda yang berlebihan dihilangkan dengan keseriusan dalam melakukan berbagai perbuatan yang baik dan positif. Sedangkan menyia-nyiakan waktu dihapus dengan menyibukkan diri dengan melakukan perbuatan baik dan mulia. Pelecehan dihapuskan dengan belajar untuk menahan diri dari menyakiti orang lain. Ambisi terhadap materi, dunia dan bermegah-megahan dihapus dengan sifat gona’ah. Dan begitu juga dengna sifat buruk yang lain harus dihilangkan dengan menanamkan sifat kebalikannya. Upaya menanamkan sifat-sifat baik tersebut memerlukan kesabaran, latihan dan pembiasaan yang berulang-ulang dan terus menerus. Itulah yang diseburt dengan riyadhoh, yaitu kesabaran melatih dan membiasakna diri secara terus menerus untuk menanamkan dan melakukan kebaikan.
Selanjutnya ada dua hal mendasar yang harus dilakukan untuk mengobati amarah.
Pertama adalah membekali diri dengan seperangkat pengetahuan yang membahas tentang bahaya marah dan dampaknya, serta pengetahuan keutamaan bagi mereka yang dapat mengendalikan gejolak amarah.
Kedua adalah memohan perlindungan kepada Allah SWT, sebagaiman yang diajarkan Rasulullah SAW denagn membaca “Allahumma robba nabiyyi muhammadin ighfirly dzanbi wa adzhib qolbi wa qini min mudhilati fitnah“ yang artinya “Ya Allah, robb Muhammad, ampunilah dosaku, hilangkan kemarahan hatiku dan lindungilah aku dari fitnah yang menyesatkan”.
Langkah-langkah mengfendalikan Amarah
1. Hindariklah marah dalam keadaan berdiri, upayakan untuk duduk. Jika gejolak marah masih besar hendaknya berbaring, lebih baik lagi jika mendekatkan muka ke tanah bersujud ke hadirat Allah SWT. Abu Hurairoh menjelaskan apabila Rasulullah SAW marah dalam keadaan duduk maka beliau berbaring lalu marahnya pun menjadi hilang. Rasulullah SAW bersabda, “ jika kamu marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, jika kamu dalam keadann duduk maka hendaklah bersandar, jika dalam keadaan bersandar maka hendaklah berbaring.” Nabi Muhammad SAW bersabda, “Ketahuilah sesungguhnya marah adalah bara dalam hati manusia anak adam, tidak kau ketahui matanya merah dan membengkak dan apabila dalam keadaan tesebut hendaknya menempelkan pipinya ketanah, sujud meletakkan dahi ketanah hal ini megisyaratkan ketawahu’an.”
2. Dianjurkan berwudhu, “Apabila diantara kalian marah hendaklah berwudhu dengan air karena marah dari api’ (HR. Abu Dawud).juga terdapat dalam riwayat lain, “Sesungguhnya marah itu dari syaithan, dan sesungguhnya syaitahn itu dari api dan api dipadamkan oleh air. Maka apabila salah seorang diantara kamu marah hendaknya berwudhu. Juga dalam keadaan marah hendaknya berdiam, diam dari lidahnya dan diam dari gerak tangan dan kakinya.”Ibnu Abbas berkata bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda “ Apabila marah maka diamlah.”Suatu hari pernah Umar ra menampakkan kemarahannya, lalu ia minta air kumu-kumur dan berkata, “sesungguhnya marah dari syaithan, sedangakan air dapat mehilangkan marah.”
3. Mengingat dan menagungkan Allah SWT. Urwah bin Muhammad beerkata, “Ketika aku ditunjuk jadi gubernur Yaman, ayahku berkata, “Kamudiangkat jadi gubernur?”, aku katakan “ya…” Lalu ayahku berkata “jika kamu marah pandfanglah keatas langit dan ke bumi kemudian agungkan pencipta keduanya.”
Demikianlah, ketika orang mampu mengendalikan amarahnya maka dia akan mendapatkan balasan yang besar dan kemulian yang tinggi. Salah satu ciri orang bertaqwa yang disebut Allah SWT dalam QS Ali Imraan; 134 adalah al kazhiminal ghoizho, yaitu orang –orang yang dapat mengendalikan amarahnya. Nabi bersabda, “orang yang paling hebat diantara kalian adalah orang yang bisa mengendalikan hawa nafsunya pada saat marah dan orang yang paling santun diantara kalian adalah orang yang memaafkan pada saat mampu melakukan pembalasan.”
Dalam riwayat Abu Daud, Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa menahan amarah padahal jika ia mau ia mampu melampiaskannya maka Allah SWT akan memenuhi hatinya dihari kiamat dengan keimanan”. Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Ibnu Majah, “Tidak ada tegukan keridhoan yang lebih besar pahalanya selain tegukan kemarahan yang ditelan seseorang dan mengharap ridho Allah SWT .”
Umar bin Khattab pernah berkata, “Siapa yang bertaqwa kepada Allah SWT tidak akan melampiaskan kemarahannya dan siapa yang takut kepada Allah SWT tidak akan berbuat sekehendaknya kalu bukan karena hari kiamat niscaya terjadi hal yang diluar apa yang kalian saksikan.”
Langganan:
Postingan (Atom)