Jumat, 10 Februari 2012

Membagi Waktu dengan Adil


Membagi Waktu dengan Adil
“Sebaik-baik manusia adalah yang diberi umur panjang dan baik amalanya.dan sejelek-jelek manusia adalah yang diberi umur panjang dan jelek amalnya” ( HR Ahmad )
Islam sangat menaruh perhatian terhadap waktu. Dalam Al Quran, bertebaran ayat-ayat yang berhubungan dengan waktu. Bahkan, berkali-kali Allah swt. Bersumpah bersumpah  atas nama waktu. Misalnya awal surat Al Ash [103], Al Lail [92], Adh Dhuha [93], dsb. Hal ini menandakan betapa pentingnya waktu dalam kehidupan manusia. Maka tak usah heran bial islam mengingatkan kita kan waktu minimal lima kali sehari semalam. Belum lagi anjuran untuk menghidupkan waktu di sepertiga malam terakhir dan waktu dhuha (saat matahari sepenggalah).
                Meningatkan pentingnya waktu, maka kita layak bertanya, sejauh man komitmen kita terhadap waktu ? Bila kita termasuk orang yang meremahkan waktu, tidak kecewa saat penambahan waktu tidak menghasilkan peningkatan kualitas diri, maka bersiap-siaplah menjadi pecundang dalam hidup.
                Kita ini telah, sedang, dan akan selalu berpacu dengan waktu. Satu desah nafas sebanding denagn satu langkah menuju maut. Alangkah ruginya manakala banyaknya keinginan, mealmbung angan-angan, serta meluapnya harapan tidak diimbangi dengan meningkatnya kualitas diri. Mak, siapapun yang bersungguh-sungguh mengisi waktu dengan kebaikan, niscaya Allah akan memberikan yang terbaik bagi orang tersebut.

                Kunci Efektivitas Waktu
                Efektivitas penggunaan waktu sangat dipengaruhi keterampilan kita dalam membaginya. Ada hak belajar, hak bekerja, hak tubuh, hak keluarga, hak ibadah, dan juga hak evaluasi diri. Semuanya harus dibagi secara adil. Sibuk dan hebatnya belajar tanpa diserai istirahat dan ibadah misalnya, hanya kan mendatangkan masalah.
                Mahasiswa yang kan mengikuti ujian misalnya. Waktunya tinggal tiga bulan lagi. Maka menjadi keharusan baginya untukmembuat perencaan. Sehari belajar berapa jam ? Katakanlah 2 jam. Seminggu mau berapa kali belajar ? Enam kali. Berarti 12 jam perminggu atau 48 jam perbulan. Jadi, malam tiga bulan ia harus belajar minimal 144 jam. Lalu, mata kuliah rata-rata lima bab dan satu bab sepuluh halaman. Sedangkan waktu yang dimiliki hanya 144 jam. Dengan demikian, dalam satu jam ia harus menguasai minimal tiga lembar. Kuncinya, kita harus memetakan dulu potensi dan masalahnya. Lalu bergerak dengan acuan peta tersebut. Setelah itu kita disiplin menjalankannya. Sebab banyak orang yang hanya pandai membuat rencana, tapi kurang pandai menjlankannya. Karena itu, sebuah rencana tidak perlu muluk-muluk. Buatlah rencana proporsinal dan fleksibel agar kita mudah menjalannya.

Menunda pekerjaan
            Ada sebuah kebiasaan yang akan menghambat efektivitas dan optimalisasi waktu kita miliki, yaitu kebiasaan menunda. Hebatnya, sebagian orang merasa bahwa menunda pekerjaan itu akan lebih baik. Padahal menunda hampir pasti menunda masalah bila tidak didasarkan pada perhitungan matang. Dalam setiap waktu ada kewajiban yang harus kita tunaika. Andaikan kita tunda maka pasti pekerjaan lain akan menyusul sehingga pekerjaan makin menumpuk. Akhirnya, banyak energi, waktu, dan biaya yang terbuang percuma selain berpeluang memunculkan rasa enggan untuk mengerjakannya.
            Contaoh ada seorang pelajar yang kana mengahadapi ujian. Dalam hati ia berkata, “Saya akan belajar nanti malam saja supaya lebih tenang.” Ketika malam datang ia berkata lagi, “Ah nanti saja menjelang hari H saya akan belajar mati-matian. “ saat malam hari H tiba muncul lagi alasan, “Agar lebih masuk, saya akan belajar nanti subuh. “ Apa yang terjadi ? subuhnya terlambat dan ia pun bangun kesiangan dan telat masuk ruang kelas. Ada sebuah nasehat dari Imam Hasan Al Baqhri yang layak kiata renungkan. “Waspadalah kamu dari menunda pekerjaan, karena kamu berada pada hari ini bukan pada hari esok. Kalaulah esok tidak menjadi milikmu, niscaya kamu tidak akan menyesali apa yang telah berlalu dari harimu.
            Coba kita renungkan lagi bahwa ditahun yang baru hijrah ini kita tata kembali evaluasi diri apa yang telah kita lakukan dan kita perbuat ditahun yang lalu apakah kita termasuk oleh Allah yang merugu ?
“Wallaahu a’alam”

Semoga sukses
Lakukan Aktivitas kamu dengan Ridho_Nya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar